Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

NASIONAL48 Dilihat

Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

Nusakambangan, sekon.id – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, memberikan apresiasi terhadap transformasi besar yang terjadi di kawasan pemasyarakatan Nusakambangan. Pulau yang selama ini dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan dengan tingkat pengamanan tinggi itu kini berkembang menjadi kawasan produktif yang berkontribusi pada program ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi pusat pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

Apresiasi tersebut disampaikan Titiek Soeharto saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026), didampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau secara langsung berbagai program pembinaan dan pemberdayaan yang telah dikembangkan di kawasan Nusakambangan. Beragam sektor usaha yang dikelola melibatkan warga binaan, mulai dari bidang pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan limbah, hingga industri kreatif.

Beberapa lokasi yang menjadi fokus peninjauan antara lain Workshop Fly Ash Bottom Ash (FABA), area pertanian dan peternakan terpadu, fasilitas produksi pupuk organik, Balai Latihan Kerja (BLK) konveksi, unit pengolahan sampah, budidaya perikanan, tambak udang vaname, serta pengembangan budidaya ikan sidat yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Nusakambangan Tak Lagi Sekadar Simbol Penjara

Dalam kesempatan tersebut, Titiek mengaku terkesan melihat perubahan yang terjadi di Nusakambangan. Selama ini, pulau tersebut identik dengan lembaga pemasyarakatan bagi narapidana kasus berat dan sering mendapat julukan sebagai “Alcatraz Indonesia”.

Namun setelah melihat langsung berbagai aktivitas produktif yang berjalan, ia menilai Nusakambangan kini menunjukkan wajah baru yang jauh lebih positif.

“Atas nama Komisi IV, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pak Menteri dan jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Mudah-mudahan usaha ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain,” ujar Titiek.

Menurutnya, transformasi yang dilakukan tidak hanya memberikan manfaat bagi pembinaan warga binaan, tetapi juga mampu mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Nusakambangan yang kita dengar selalu serem, bayangannya Alcatraz. Ternyata setelah ke sini sangat ramah dan bisa menghasilkan begitu banyak produk yang bermanfaat untuk kita semuanya,” tambahnya.

Optimalkan Lahan Idle untuk Ketahanan Pangan

Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menjelaskan bahwa program yang dikembangkan di Nusakambangan merupakan bagian dari strategi pemanfaatan lahan idle yang dimiliki lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia.

Menurutnya, kementerian terus mendorong optimalisasi aset negara yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal agar dapat menghasilkan nilai ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan pangan.

“Tadi kami juga mohon beberapa evaluasi dan arahan, dan akan kami tindak lanjuti, termasuk upaya-upaya perbaikan dari apa yang sudah kita kerjakan. Kami sudah laporkan kepada beliau bahwa seluruh LAPAS dan RUTAN memanfaatkan lahan idle yang ada untuk dioptimalkan dalam membangun program ketahanan pangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan dari dalam,” terang Agus.

Program tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan internal lembaga pemasyarakatan, tetapi juga memberikan keterampilan kerja yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya.

Libatkan Ratusan Warga Binaan

Saat ini, kawasan Nusakambangan telah mengelola sekitar 135 hektare lahan produktif yang digunakan untuk berbagai kegiatan usaha dan produksi.

Ratusan warga binaan terlibat langsung dalam pengelolaan sektor pertanian, peternakan, budidaya perikanan, pengolahan sampah, produksi pupuk organik, usaha konveksi, hingga pengembangan tambak udang vaname dan budidaya sidat.

Keterlibatan warga binaan dalam berbagai program tersebut menjadi bagian penting dari konsep pemasyarakatan modern yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan kedisiplinan, tetapi juga penguatan keterampilan dan kemandirian ekonomi.

Melalui pelatihan dan pengalaman kerja yang diperoleh selama menjalani masa pidana, warga binaan diharapkan memiliki bekal yang cukup untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat setelah bebas.

Model Pembinaan yang Didorong untuk Direplikasi

Keberhasilan pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan dinilai dapat menjadi model pembinaan yang diterapkan di berbagai lembaga pemasyarakatan lainnya di Indonesia.

Selain memberikan manfaat sosial melalui pembinaan narapidana, program tersebut juga mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat sektor pangan nasional, meningkatkan produktivitas lahan, serta menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang lebih konstruktif.

Dengan memadukan program pembinaan dan pemberdayaan ekonomi, Nusakambangan kini menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai sarana pembentukan keterampilan, karakter, dan kesiapan warga binaan untuk kembali menjadi bagian produktif dalam masyarakat.

Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan pembinaan yang tepat mampu mengubah stigma lama menjadi peluang baru, baik bagi warga binaan maupun bagi pembangunan nasional secara keseluruhan. (dkd)

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar